Kamis, 04 Oktober 2018

Kisah Santri Modern - Day 1 - Tipe Agresif

Assalamualaikum santri dan santriwati seluruh alam semesta yang selalu dalam lindungan Allah SWT. Ini blog mau cerita tentang Kisah Santri Modern - Day 1 - Tipe Agresif, pengen tau kan gimana ceritanya? sok diread - read sekedap



Hari pertama lagi semangat-semangatnya, emang udah diniatin dari rumah. Pamit sama orang tua, kakek-nenek, pakde-bude, tetangga, teman Moba, temen FB, Twitter, IG, kakaotalk, wechat, friendster (karna gak boleh bawa HandPhone bro), warung sebelah rumah, sampe tukang cireng depan gang tak ketinggalan.






Daftar paling pertama, masuk pesantren pertama, sampe nginep-nginep dipesantren sekalian test driving, sapa tau gak cocok antara suasana pesantren dengan suasana hatinya kan bisa lain kali aja masuknya. Emang sulit sih kalo berurusan dengan hati, ini masalah kenyamanan, kesempurnaan, cintaaaa (ikky-sule).






SKSD sama senior, ustadz, karyawan dapur, karyawan kantor, gak ketinggalan tukang seblak dan anaknya dimodusin. Inisih emang salah satu strategi untuk memuluskan perjalanan menuntut ilmu dipesantren, katanya biar sekali mendayung semua pulau sama pohon-pohonya diembat juga (kospirasi bumi datar nih).








Berbakat buat jawab semua pertanyaan senior dan ustad yang lagi jelasin materi dan perkenalan, (iyalah kan udh nginep duluan satu pekan dipesantren), jago dah pokoknya, azzamnya kuat banget sama kayak hp nok*a dijatuhin dilantai (malah lantainya pecah). Emang sulit nyalipnya bro, Rossi aja kalah, kalo disuruh masuk pelajaran tiap hari juga mau kayaknya. Asalkan ilmu yang bermanfaat tercapai (mantab).







Sholat selalu paling awal, senantiasa berada didepan mimbar masjid, berharap dapat giliran adzan sama senior yang membuat jadwal muadzin hehe (karena keutamaannya besar loh : "Allah akan panjangkan leher para muadzin pada hari kiamat sepanjang suaranya"). Nah kan, makin melesat aja udah kayak roket NASA diuber-uber Satpol PP.



Kata-katanya penuh dengan motivasi dan optimisme extrimisme tanpa plularisme dan liberalisme, yang senantiasa menolak paham komunisme, radikalisme, animisme, dinamisme (lanjutin sendiri) yang jelas dia bukan pemain naturalisme.

Salut juga sih sama teman yang satu ini, dengan semangatnya, keteguhannya dan istiqomahnya (wallahualam), membangkitkan rasa iri para santri kelas menengah (sedang-sedang saja). Segala sesuatu tergantung pada niatnya, kalo niatnya dari awal udah salah apalah daya menyesal dikemudian.






Wallahualam,............bersambung ye................. (abangnya mau nyetrika sarung)

1 komentar: